Sabtu, 02 Mei 2015

CERPEN MOTIVASI

Keadaan Meyakinkanku

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 25 April 2015

Jingga mulai merekah, mentari mulai lelah dan kembali ke peraduannya seperti biasa. ‘Apakah hidupku bisa kembali indah seperti langit sore yang selalu indah di mataku?’ Detikku dalam hati. Langit sore ini menemani hatiku yang berwarna abu-abu. Ya, tidak jelas. Semuanya penuh tanda tanya.
“Wahai sepi… Bantu aku, aku lelah dengannya” Tambahku dalam hati.
Kegelapan membuyarkan lamunanku. Aku segera berpaling menuju tempat tidurku yang kurasa menjadi tempat ternyamanku untuk saat ini. Aku mengambil handphone-ku yang dengan sengaja ku simpan di lemari. Dan tetap, tak ada sebuah berita pun tentangnya. Aku menghela nafas, dan berusaha sabar menanggapi semua ini.
Di kesunyian ini aku butuh lentera. Ya, lentera yang dulu senantiasa menerangi malam dan kesunyianku. Dan itu, dulu. Aku teringat akan ucapannya bahwa dalam hubungan berjarak ini, dia akan mengabariku setiap hari, akan selalu menjadi awal di pagiku dan menjadi akhir di malamku. Selalu ku baca kata cinta di akhir pesan singkat darinya. Namun, entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Seakan aku tak pernah ada dalam hatinya.

Seratus dua puluh hari sudah dia mengingkari perkataanya itu. Ya, perkataannya yang mengatakan bahwa dia akan selalu mengabariku setiap hari. Nyatanya? Nol besar.
‘Apa yang harus aku lakukan? Melepaskannya? Begitu saja? Lalu, untuk apa usahaku mempertahankannya jika akhirnya hanya melepaskannya begitu saja? Meski memang menyakitkan, tapi aku mencintainya’, batinku sembari terus berfikir untuk meluruskan sejuta kebingungan yang menyelinap dalam pikiranku ini.
‘Jika aku lepaskan perasaan ini, apa aku juga rela melepaskan dia, melepaskan segala kenangan yang sudah terukir?’ tambahku.

Belakangan ini memang aku kurang fokus di sekolahku. Mungkin ini penyebabnya. Guruku juga sering menegurku kala jam pelajaran berlangung, karena aku sering melamun. Semua itu, karena aku tak pernah berbagi tentang apa yang ada di pikiran dan di hatiku kepada siapapun. Sulit bagiku untuk mempercayai seseorang. Ibuku seorang wanita karir sedangkan Ayahku seorang pengusaha, mereka tak pernah memiliki waktu senggang untuk sedikit saja memperhatikan anak tunggalnya ini. Dan akhirnya aku lebih memilih memendam masalahku sendiri. “Aku lelah, Aku merasa kesepian…” Peluhku.
Teringat beberapa waktu silam, dikala Ayah selalu menjadi supporter setiaku dan Ibu yang selalu menjadi motivator terbaikku. Kehidupan memang begitu tajam dan keras bagiku, semuanya dapat berbanding terbalik secara tiba-tiba. Sebisa mungkin aku harus bisa mengatur semuanya sendiri. Dan Arya, yang notabene adalah kekasihku. ‘apa dia masih peduli denganku? Untuk kali ini sepertinya tidak’ Keluhku dalam hati.

Ya, dan keputusanku sudah bulat. Aku bisa berdiri sendiri dengan berbagai permasalahan hidup yang mengelilingiku. Aku bisa menjalani hari-hariku tanpa Ibu, Ayah dan Arya. Aku sudah terbiasa tanpa mereka. “Tapi aku yakin dan akan berusaha, bahwa aku bisa sukses walaupun hidupku tak sebahagia anak-anak di luaran sana yang bisa curhat, refreshing bersama serta bercanda-tawa dengan Ibu dan Ayah mereka. Aku kuat, dan harus yakin…” Tekad-ku. Dan aku pun tersadar bahwa setiap kenyataan hidup tidak harus selalu seperti apa yang kita harapkan.

Cerpen Karangan: Vinni Dianti Putri
Blog: Vinnidianti23.blogspot.com
Facebook: Vinni Dianti Putri
Nama: Vinni Dianti Putri
TTL: Cirebon, 23 November 1997
Kelas: XI IPS 3
Sekolah: SMA N 4 KOTA CIREBON
Twitter: @Vinnidptr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar