Keadaan Meyakinkanku
Jingga mulai merekah, mentari mulai lelah dan kembali ke peraduannya
seperti biasa. ‘Apakah hidupku bisa kembali indah seperti langit sore
yang selalu indah di mataku?’ Detikku dalam hati. Langit sore ini
menemani hatiku yang berwarna abu-abu. Ya, tidak jelas. Semuanya penuh
tanda tanya.
“Wahai sepi… Bantu aku, aku lelah dengannya” Tambahku dalam hati.
“Wahai sepi… Bantu aku, aku lelah dengannya” Tambahku dalam hati.
Kegelapan membuyarkan lamunanku. Aku segera berpaling menuju tempat
tidurku yang kurasa menjadi tempat ternyamanku untuk saat ini. Aku
mengambil handphone-ku yang dengan sengaja ku simpan di lemari. Dan
tetap, tak ada sebuah berita pun tentangnya. Aku menghela nafas, dan
berusaha sabar menanggapi semua ini.
Di kesunyian ini aku butuh lentera. Ya, lentera yang dulu senantiasa
menerangi malam dan kesunyianku. Dan itu, dulu. Aku teringat akan
ucapannya bahwa dalam hubungan berjarak ini, dia akan mengabariku setiap
hari, akan selalu menjadi awal di pagiku dan menjadi akhir di malamku.
Selalu ku baca kata cinta di akhir pesan singkat darinya. Namun, entah
apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Seakan aku tak pernah ada dalam
hatinya.
Seratus dua puluh hari sudah dia mengingkari perkataanya itu. Ya,
perkataannya yang mengatakan bahwa dia akan selalu mengabariku setiap
hari. Nyatanya? Nol besar.
‘Apa yang harus aku lakukan? Melepaskannya? Begitu saja? Lalu, untuk apa usahaku mempertahankannya jika akhirnya hanya melepaskannya begitu saja? Meski memang menyakitkan, tapi aku mencintainya’, batinku sembari terus berfikir untuk meluruskan sejuta kebingungan yang menyelinap dalam pikiranku ini.
‘Jika aku lepaskan perasaan ini, apa aku juga rela melepaskan dia, melepaskan segala kenangan yang sudah terukir?’ tambahku.
‘Apa yang harus aku lakukan? Melepaskannya? Begitu saja? Lalu, untuk apa usahaku mempertahankannya jika akhirnya hanya melepaskannya begitu saja? Meski memang menyakitkan, tapi aku mencintainya’, batinku sembari terus berfikir untuk meluruskan sejuta kebingungan yang menyelinap dalam pikiranku ini.
‘Jika aku lepaskan perasaan ini, apa aku juga rela melepaskan dia, melepaskan segala kenangan yang sudah terukir?’ tambahku.
Belakangan ini memang aku kurang fokus di sekolahku. Mungkin ini
penyebabnya. Guruku juga sering menegurku kala jam pelajaran berlangung,
karena aku sering melamun. Semua itu, karena aku tak pernah berbagi
tentang apa yang ada di pikiran dan di hatiku kepada siapapun. Sulit
bagiku untuk mempercayai seseorang. Ibuku seorang wanita karir sedangkan
Ayahku seorang pengusaha, mereka tak pernah memiliki waktu senggang
untuk sedikit saja memperhatikan anak tunggalnya ini. Dan akhirnya aku
lebih memilih memendam masalahku sendiri. “Aku lelah, Aku merasa
kesepian…” Peluhku.
Teringat beberapa waktu silam, dikala Ayah selalu menjadi supporter
setiaku dan Ibu yang selalu menjadi motivator terbaikku. Kehidupan
memang begitu tajam dan keras bagiku, semuanya dapat berbanding terbalik
secara tiba-tiba. Sebisa mungkin aku harus bisa mengatur semuanya
sendiri. Dan Arya, yang notabene adalah kekasihku. ‘apa dia masih peduli
denganku? Untuk kali ini sepertinya tidak’ Keluhku dalam hati.
Ya, dan keputusanku sudah bulat. Aku bisa berdiri sendiri dengan
berbagai permasalahan hidup yang mengelilingiku. Aku bisa menjalani
hari-hariku tanpa Ibu, Ayah dan Arya. Aku sudah terbiasa tanpa mereka.
“Tapi aku yakin dan akan berusaha, bahwa aku bisa sukses walaupun
hidupku tak sebahagia anak-anak di luaran sana yang bisa curhat,
refreshing bersama serta bercanda-tawa dengan Ibu dan Ayah mereka. Aku
kuat, dan harus yakin…” Tekad-ku. Dan aku pun tersadar bahwa setiap
kenyataan hidup tidak harus selalu seperti apa yang kita harapkan.
Blog: Vinnidianti23.blogspot.com
Facebook: Vinni Dianti Putri
Nama: Vinni Dianti Putri
TTL: Cirebon, 23 November 1997
Kelas: XI IPS 3
Sekolah: SMA N 4 KOTA CIREBON
Twitter: @Vinnidptr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar